MOOC · 16 Pertemuan · Outline Kurikulum

Pendidikan Keluarga
Berbasis Life Based
Family Scenario

Kurikulum holistik yang menempatkan skenario kehidupan keluarga nyata sebagai laboratorium pembelajaran — membangun kompetensi pengasuhan, komunikasi, ketahanan, dan nilai keluarga yang berdampak lintas generasi.

Life-Based Learning Family Scenario Experiential Reflection Contextual Pedagogy Parenting Education
Profil Kurikulum
16
Total Pertemuan
6
Unit Tematik
LBFS
Metode Utama
PK
Pendidikan Keluarga
Tipe Sesi: Teori Praktik Skenario Refleksi Proyek Evaluasi
I
Unit Satu
Unit Pertama · Pertemuan 1–3
Fondasi Pendidikan Keluarga & Kerangka Life Based Family Scenario
Membangun pemahaman konseptual tentang keluarga sebagai sistem sosial, peran pendidikan di dalamnya, dan mengapa skenario kehidupan nyata menjadi metode yang paling autentik.
01
Teori
Keluarga sebagai Ekosistem Pembelajaran: Memahami Sistem Keluarga
Menelaah keluarga bukan sekadar unit sosial, melainkan ekosistem dinamis di mana setiap anggota adalah guru sekaligus murid sepanjang hayat.
+
Deskripsi Materi

Pertemuan pertama membangun fondasi filosofis kursus: memandang keluarga melalui lensa Family Systems Theory (Bowen) dan Ecological Systems Theory (Bronfenbrenner). Peserta diajak merenungkan bagaimana keluarga — dengan segala dinamikanya: kasih, konflik, krisis, pertumbuhan — adalah lingkungan pembelajaran paling fundamental yang pernah ada. Kursus ini tidak sekadar mengajarkan tentang keluarga, tetapi menggunakan kehidupan keluarga sendiri sebagai laboratorium.

Isi Konten
Definisi keluarga dalam perspektif multidisiplin: sosiologi, psikologi, teologi
Family Systems Theory Bowen: triangulasi, diferensiasi diri, transmisi lintas generasi
Ekologi Perkembangan Bronfenbrenner: mikro, meso, ekso, makro, kronosistem
Keluarga sebagai "kurikulum tersembunyi": apa yang diajarkan tanpa disengaja
Perbedaan pendidikan keluarga formal, non-formal, dan informal
Pengantar Life Based Family Scenario (LBFS): filosofi dan rasionalisasi
Potret keluarga Indonesia kontemporer: tantangan dan kekuatan
Self-reflection awal: peta sistem keluarga sendiri (genogram sederhana)
Orientasi kursus: kontrak belajar dan etika berbagi cerita keluarga
🌿 Capaian: Peserta mampu menggambarkan keluarga mereka sebagai sistem menggunakan minimal 2 kerangka teori, membuat genogram sederhana 3 generasi, dan mengartikulasikan relevansi LBFS untuk konteks keluarga mereka sendiri.
Genogram CanvasPadlet (Refleksi)Google Jamboard
02
TeoriSkenario
Kerangka Life Based Family Scenario: Metodologi & Etika Pembelajaran
Memahami secara mendalam bagaimana LBFS bekerja sebagai metodologi pembelajaran: skenario, refleksi, dan transformasi sebagai siklus.
+
Deskripsi Materi

Life Based Family Scenario (LBFS) adalah metodologi yang menggunakan skenario kehidupan keluarga yang autentik dan kontekstual — bukan fiksi — sebagai medium pembelajaran. Pertemuan ini membedah anatomi LBFS: bagaimana memilih skenario yang tepat, bagaimana memfasilitasi refleksi tanpa menghakimi, dan bagaimana etika privasi dan keamanan emosional dijaga dalam proses pembelajaran yang sangat personal ini.

Isi Konten
Anatomi LBFS: skenario → analisis → refleksi → insight → aplikasi
Tipologi skenario keluarga: harian, transisional, krisis, selebrasi
Prinsip pemilihan skenario: relevansi, kompleksitas, transferabilitas
Etika pembelajaran LBFS: kerahasiaan, persetujuan, non-judgment
Fasilitasi refleksi yang aman secara psikologis (psychological safety)
Perbedaan LBFS dengan studi kasus, role play, dan metode konvensional
Experiential learning cycle (Kolb) dalam konteks LBFS
Praktik: menulis narasi skenario keluarga pertama (terstruktur)
📖 Skenario Ilustrasi: "Malam itu Budi (45) pulang terlambat untuk kesekian kali. Di meja makan, istrinya diam. Anak sulungnya menutup pintu kamar keras-keras. Si bungsu bertanya, 'Ayah, kenapa Ibu menangis?' — Apa yang sedang terjadi dalam sistem keluarga ini? Apa yang tidak terkatakan?"
🌿 Capaian: Peserta memahami siklus LBFS secara konseptual dan mampu menulis 1 narasi skenario keluarga yang autentik menggunakan panduan struktur yang diberikan, disertai identifikasi 3 tema pembelajaran di dalamnya.
Narrative TemplateGoogle DocsMentimeter (Anonim)
03
PraktikRefleksi
Potret Diri sebagai Anggota Keluarga: Identitas, Peran & Pola Warisan
Menggali secara jujur siapa kita dalam keluarga — peran yang kita emban, pola yang kita wariskan, dan narasi yang kita bawa tanpa sadar.
+
Deskripsi Materi

Sebelum mendidik keluarga, kita perlu mengenal diri sendiri sebagai produk dari sebuah keluarga. Pertemuan ini menggunakan pendekatan narrative self-inquiry untuk membantu peserta memetakan identitas keluarga mereka: peran yang dimainkan (peacemaker, scapegoat, hero, lost child), pola relasi yang diwarisi dari keluarga asal, dan "script" tak kasat mata yang terus berjalan dalam dinamika keluarga saat ini.

Isi Konten
Teori peran keluarga: Wegscheider-Cruse's family roles
Intergenerational transmission: pola yang diwariskan lintas generasi
Family script: narasi tak sadar tentang "begitulah keluarga kami"
Attachment style dewasa (Hazan & Shaver) dan pengaruhnya pada parenting
Inner child dan dampaknya pada peran sebagai orang tua/pasangan
Genogram emosional: memetakan pola emosi lintas generasi
Kekuatan keluarga asal: apa yang patut dibawa terus?
Praktik: jurnal refleksi "Saya belajar menjadi [ayah/ibu/pasangan] dari..."
🌿 Capaian: Peserta mampu mengidentifikasi minimal 2 peran yang mereka mainkan dalam keluarga, 2 pola yang diwarisi dari keluarga asal, dan 1 pola yang ingin diubah — semua didokumentasikan dalam jurnal refleksi personal.
Jurnal Refleksi DigitalGenogram ToolPadlet (Privat)
II
Unit Dua
Unit Kedua · Pertemuan 4–6
Komunikasi Keluarga yang Membangun: Dari Kata-kata Menuju Koneksi
Memahami bahasa verbal dan non-verbal keluarga, membangun keterampilan mendengar yang dalam, dan mengelola konflik sebagai peluang pertumbuhan relasi.
04
TeoriSkenario
Bahasa Keluarga: Pola Komunikasi, Keheningan, & Pesan Tersirat
Menyelami lapisan-lapisan komunikasi keluarga — apa yang dikatakan, apa yang tidak, dan apa yang sesungguhnya dimaksud.
+
Deskripsi Materi

Setiap keluarga memiliki "bahasa" tersendiri — kode-kode komunikasi yang hanya dipahami oleh anggotanya. Pertemuan ini mengeksplorasi komunikasi keluarga secara mendalam: dari pola sirkular (Circular Communication Patterns), double-bind messages, hingga peran keheningan dan bahasa tubuh. Peserta belajar membaca lapisan-lapisan komunikasi dalam skenario nyata kehidupan keluarga.

Isi Konten
Model komunikasi keluarga Satir: leveling, placating, blaming, computing, distracting
Pola komunikasi sirkular: sebab-akibat dalam dinamika keluarga
Double-bind message: pesan ganda yang membingungkan anak
Komunikasi non-verbal dalam keluarga: jarak, sentuhan, kontak mata
Keheningan sebagai bahasa: makna diam dalam relasi keluarga
Metacommunication: berbicara tentang cara kita berbicara
Pengaruh gadget pada komunikasi keluarga kontemporer
Analisis skenario: "Sarapan Hari Senin" — membaca komunikasi tersirat
📖 Skenario LBFS: "Setiap sarapan, Ibu bertanya soal nilai ulangan. Anak menjawab singkat sambil menatap ponsel. Ayah membaca koran tanpa berbicara. Mereka duduk bersama tapi masing-masing sendiri. Ini sudah berlangsung 2 tahun." — Pola apa yang sedang terjadi? Siapa yang pertama kali perlu bergerak?
🌿 Capaian: Peserta mampu mengidentifikasi minimal 3 pola komunikasi bermasalah dalam skenario yang diberikan, menghubungkannya dengan teori Satir, dan mengusulkan intervensi komunikasi yang konkret.
Communication Pattern MapVideo AnalysisMiro (Peta Komunikasi)
05
Praktik
Seni Mendengar dalam Keluarga: Active Listening & Empathic Presence
Membangun kemampuan mendengar yang sungguh-sungguh — bukan untuk menjawab, tetapi untuk memahami — sebagai fondasi koneksi emosional keluarga.
+
Deskripsi Materi

Penelitian Gottman menunjukkan bahwa kualitas mendengar — bukan frekuensi bicara — adalah prediktor terkuat kebahagiaan relasi keluarga. Pertemuan ini adalah workshop intensif keterampilan mendengar: dari teknik parafrase dan validasi emosi, hingga menghadirkan diri sepenuhnya (empathic presence) dalam percakapan dengan anak, pasangan, atau orang tua lanjut usia.

Isi Konten
Level mendengar: cosmetic, conversational, active, empathic, generative
Teknik active listening: parafrase, refleksi perasaan, klarifikasi, summarizing
Hambatan mendengar: advice-giving reflex, problem-solving mode, distraksi digital
Empathic presence: hadir secara penuh tanpa agenda tersembunyi
Mendengar anak: bahasa perkembangan dan dunia emosi anak
Mendengar pasangan: Gottman's "turning toward" bids for connection
Mendengar orang tua lansia: validasi pengalaman dan kebutuhan dignitas
Praktik berpasangan: sesi mendengar terstruktur 10 menit
🌿 Capaian: Peserta mempraktikkan sesi mendengar aktif selama 10 menit dengan pasangan latihan, menerima umpan balik terstruktur, dan mengidentifikasi 2 hambatan mendengar pribadi yang akan mereka kerjakan.
Listening RubrikPerekam Audio (Latihan)Refleksi Card
06
SkenarioPraktik
Konflik Keluarga sebagai Peluang: Navigasi, Resolusi & Rekonsiliasi
Mengubah perspektif tentang konflik — dari ancaman menjadi peluang untuk keintiman yang lebih dalam dan pemahaman yang lebih nyata.
+
Deskripsi Materi

Konflik dalam keluarga bukan tanda kegagalan — ia adalah undangan untuk pertumbuhan. Pertemuan ini membangun kompetensi mengelola konflik keluarga melalui skenario nyata: pertengkaran suami-istri, konflik orang tua-anak remaja, persaingan kakak-adik, dan ketegangan menantu-mertua. Peserta mempelajari model resolusi konflik yang sesuai budaya Indonesia dan mempraktikkannya melalui role-play berbasis skenario.

Isi Konten
Tipologi konflik keluarga: kognitif, afektif, peran, nilai, sumber daya
Pola eskalasi konflik: Gottman's Four Horsemen (kritik, contempt, defensiveness, stonewalling)
Diferensiasi kebutuhan vs. posisi dalam konflik keluarga
Nonviolent Communication (Rosenberg) dalam konteks keluarga
Repair attempts: cara memulai rekonsiliasi setelah konflik
Skenario: konflik orang tua-remaja tentang kebebasan dan batasan
Peran memaafkan dalam pemulihan sistem keluarga
Praktik: simulasi mediasi konflik keluarga berpasangan
📖 Skenario LBFS: "Rina (16) ingin ikut konser dengan teman-temannya pukul 22.00. Ayahnya bilang tidak, tanpa penjelasan. Rina berteriak 'Ayah tidak pernah percaya!' dan membanting pintu. Ibu terdiam di tengah. Esok paginya tidak ada yang bicara." — Bagaimana memecah kebuntuan ini dengan hormat pada semua pihak?
🌿 Capaian: Peserta mampu mengidentifikasi Four Horsemen dalam skenario, mempraktikkan setidaknya 1 teknik NVC, dan mendemonstrasikan repair attempt yang otentik dalam simulasi konflik.
NVC Card DeckRole Play GuideGottman Assessment
III
Unit Tiga
Unit Ketiga · Pertemuan 7–9
Pengasuhan Responsif: Mendampingi Tumbuh Kembang dengan Kasih yang Cerdas
Membangun praktik pengasuhan yang berakar pada ilmu perkembangan, dipandu oleh kasih sayang, dan disesuaikan dengan konteks kehidupan nyata keluarga Indonesia.
07
TeoriSkenario
Gaya Pengasuhan & Skenario Kehidupan: Antara Otoritas, Cinta, & Konteks
Menganalisis gaya pengasuhan tidak sebagai label kaku, melainkan sebagai respons dinamis terhadap kebutuhan anak, konteks budaya, dan kapasitas orang tua.
+
Deskripsi Materi

Teori gaya pengasuhan Baumrind sering disalahpahami sebagai resep kaku. Pertemuan ini menggunakannya dengan cara berbeda: sebagai peta untuk refleksi diri, bukan penilaian. Melalui skenario kehidupan nyata yang beragam — dari keluarga kelas menengah urban hingga keluarga pekerja di daerah — peserta menganalisis bagaimana konteks sosial-budaya, tekanan ekonomi, dan sejarah traumatik membentuk gaya pengasuhan seseorang.

Isi Konten
Gaya pengasuhan Baumrind: authoritative, authoritarian, permissive, uninvolved
Dimensi pengasuhan: responsiveness vs. demandingness
Pengasuhan dalam konteks budaya Indonesia: kolektivisme, hierarki, agama
Faktor kontekstual: kemiskinan, single parent, keluarga extended, migrasi
Trauma pengasuhan: bagaimana luka masa kecil memengaruhi parenting kini
Pengasuhan situasional: merespons kebutuhan berbeda setiap anak
Temperamen anak dan kesesuaian (goodness of fit) dengan gaya orang tua
Analisis 3 skenario: keluarga urban dua karir, keluarga desa, keluarga single parent
📖 Skenario LBFS: "Pak Rahman bekerja 12 jam sehari untuk menghidupi 3 anak. Pulang malam, ia lelah dan mudah marah. Ia ingin menjadi ayah yang berbeda dari ayahnya yang keras, tapi sering justru mengulangi pola yang sama tanpa disadari. Ia datang ke kursus ini dengan harapan dan rasa bersalah yang sama besarnya."
🌿 Capaian: Peserta mampu menganalisis gaya pengasuhan dalam 3 skenario berbeda menggunakan framework Baumrind, mengidentifikasi faktor kontekstual yang memengaruhinya, dan merefleksikan gaya pengasuhan diri sendiri secara kritis tanpa self-judgment.
08
PraktikSkenario
Disiplin Positif & Batas Kasih: Mendidik Tanpa Melukai
Keterampilan praktis menegakkan batas yang jelas dengan hangat, mendisiplinkan dengan hormat, dan menghargai perasaan tanpa menghapus konsekuensi.
+
Deskripsi Materi

Disiplin yang sehat adalah tentang mengajarkan, bukan menghukum. Pertemuan ini membangun repertoar praktis orang tua dalam menegakkan batas yang sehat: dari teknik positive discipline (Jane Nelsen), natural and logical consequences, hingga cara merespons tantrum anak kecil dan pembangkangan remaja tanpa kehilangan koneksi emosional. Setiap teknik dipelajari melalui skenario nyata yang dipilih peserta.

Isi Konten
Prinsip Positive Discipline Jane Nelsen: kind AND firm
Natural vs. logical consequences: membiarkan kehidupan mengajar
Perbedaan punishment, discipline, dan guidance
Time-in vs. time-out: pendekatan berbasis koneksi
Merespons tantrum: co-regulation dan regulasi emosi bersama
Pembangkangan remaja: otonomi, identitas, dan batas yang bernegosiasi
Kekerasan dalam pengasuhan: mengidentifikasi dan memutus siklus
Family meeting: forum demokratis pengambilan keputusan keluarga
🌿 Capaian: Peserta mampu merancang respons disiplin yang kind-and-firm untuk minimal 3 situasi perilaku menantang anak yang mereka pilih sendiri dari kehidupan nyata, dan memvalidasi respons tersebut melalui peer review.
Positive Discipline CardScenario WorkshopRole Play Partner
09
EvaluasiRefleksi
Evaluasi Tengah Semester — Family Portrait & Analisis Skenario Komprehensif
Mengintegrasikan pembelajaran Unit I–III melalui analisis mendalam satu skenario keluarga pilihan dan refleksi pertumbuhan personal.
+
Deskripsi Materi

Checkpoint tengah kursus berupa Family Portrait Assignment: peserta memilih satu skenario kehidupan keluarga yang paling bermakna (dari keluarga sendiri atau komposit), menganalisisnya secara komprehensif menggunakan semua kerangka yang telah dipelajari, dan mempresentasikan insight serta implikasinya dalam format refleksi naratif yang kaya.

Komponen Evaluasi
Narasi Skenario (20%): penulisan skenario keluarga yang kaya detail dan autentik
Analisis Sistem (25%): aplikasi min. 3 kerangka teori dari Unit I–III
Identifikasi Pola (20%): pola komunikasi, pengasuhan, dan dinamika keluarga
Intervensi Kontekstual (20%): usulan perubahan yang realistis dan berbasis kekuatan
Refleksi Diri (15%): apa yang dipelajari tentang diri sendiri sebagai anggota keluarga
🌿 Capaian: Peserta menghasilkan analisis skenario keluarga komprehensif sepanjang 1500–2000 kata yang menunjukkan integrasi teori, kepekaan kontekstual, dan kedalaman refleksi diri yang autentik.
IV
Unit Empat
Unit Keempat · Pertemuan 10–12
Ketahanan Keluarga: Menavigasi Krisis, Transisi & Luka
Memahami bagaimana keluarga bertahan, pulih, dan bahkan tumbuh dari pengalaman-pengalaman terberat: kehilangan, perceraian, penyakit, kemiskinan, dan trauma.
10
TeoriSkenario
Resiliensi Keluarga: Sumber Kekuatan di Tengah Badai Kehidupan
Memetakan faktor-faktor yang membuat keluarga mampu melewati krisis bukan hanya utuh, tetapi lebih kuat dari sebelumnya.
+
Deskripsi Materi

Family resilience bukan sekadar "survive" — ia adalah kapasitas untuk bertransformasi melalui adversitas. Pertemuan ini mengeksplorasi framework Walsh's Family Resilience yang mengidentifikasi tiga domain kekuatan keluarga tangguh: sistem kepercayaan (belief systems), pola organisasi (organizational patterns), dan proses komunikasi (communication processes). Melalui skenario krisis nyata — PHK, kematian anggota keluarga, bencana — peserta mengidentifikasi faktor protektif dan risiko.

Isi Konten
Walsh's Family Resilience Framework: tiga domain kekuatan
Faktor protektif: kohesi, fleksibilitas, komunikasi terbuka, spiritualitas
Post-traumatic growth dalam sistem keluarga
Siklus krisis keluarga: McCubbin's Double ABCX Model
Skenario: keluarga yang kehilangan pencari nafkah utama (PHK/kematian)
Skenario: keluarga yang anggotanya mengalami penyakit kronis/disabilitas
Resiliensi berbasis komunitas dan kearifan lokal Indonesia
Strength-based approach: memulai dari kekuatan, bukan defisit
🌿 Capaian: Peserta mampu mengaplikasikan Walsh's Framework pada minimal 2 skenario krisis keluarga, mengidentifikasi faktor protektif dan risiko, serta merancang intervensi yang mengandalkan kekuatan keluarga tersebut.
Resilience Mapping ToolSkenario CardsStrength-Based Interview
11
SkenarioPraktik
Transisi Kehidupan Keluarga: Pernikahan, Kelahiran, Remaja, Lansia & Kehilangan
Setiap tahap kehidupan keluarga membawa kerentanan dan kekuatan unik — mempelajari cara mendampingi transisi sebagai momen pedagogis.
+
Deskripsi Materi

Keluarga adalah organisme hidup yang terus bergerak melalui siklus. Family Life Cycle Theory (Carter & McGoldrick) menunjukkan bahwa setiap transisi — masuknya anggota baru, keluarnya anak, kematian — adalah momen krisis normatif yang memerlukan reorganisasi seluruh sistem. Pertemuan ini mengeksplorasi kebutuhan unik setiap tahap dan bagaimana transisi yang dikelola buruk dapat meninggalkan luka yang dibawa ke generasi berikutnya.

Isi Konten
Family Life Cycle: 6 tahap Carter & McGoldrick dan tugas perkembangannya
Skenario: adaptasi pernikahan baru — menyatukan dua sistem keluarga
Skenario: kehadiran anak pertama — reorganisasi identitas pasangan
Skenario: remaja dan proses "launching" — melepas dengan cinta
Empty nest syndrome: krisis identitas pasangan setelah anak pergi
Merawat orang tua lansia: peran sandwich generation
Duka cita dalam keluarga: mendampingi kehilangan secara kolektif
Skenario komposit: keluarga yang menghadapi 2 transisi sekaligus
📖 Skenario LBFS: "Di usia 48, Ibu Sari merawat ibu kandungnya yang stroke sekaligus mendampingi anak sulungnya yang baru menikah dan sedang hamil. Suaminya baru saja pensiun dini. Dalam 6 bulan, ia akan menjadi anak, ibu, mertua, dan nenek — semua sekaligus." — Transisi mana yang perlu dikelola pertama? Siapa mendukung siapa?
🌿 Capaian: Peserta mampu memetakan posisi keluarga mereka dalam Family Life Cycle, mengidentifikasi tugas perkembangan yang belum terselesaikan, dan merancang pendampingan kontekstual untuk satu skenario transisi.
12
SkenarioRefleksi
Perceraian, Keluarga Tunggal & Keluarga Rekonstruksi: Skenario Non-Normatif
Mendampingi keluarga dalam konfigurasi yang berbeda dari "norma" — tanpa stigma, dengan pemahaman yang dalam tentang tantangan dan kekuatan uniknya.
+
Deskripsi Materi

Keluarga Indonesia hadir dalam beragam konfigurasi yang semakin kompleks. Pertemuan ini membahas keluarga non-normatif secara jujur dan empatik: bagaimana anak bertumbuh dalam keluarga single parent, bagaimana keluarga rekonstruksi (blended family) mengelola loyalitas ganda, dan bagaimana pendidik keluarga dapat hadir tanpa bias dan stigma terhadap konfigurasi yang "berbeda".

Isi Konten
Prevalensi dan tren perceraian di Indonesia: data dan konteks
Dampak perceraian pada anak: faktor risiko dan protektif
Co-parenting pasca perceraian: prinsip dan tantangan praktisnya
Keluarga single parent: kekuatan, tantangan, dan kebutuhan dukungan
Blended family: loyalitas ganda anak, peran step-parent, integrasi
Keluarga extended sebagai sistem dukungan alternatif
Stigma sosial-budaya-agama: bagaimana pendidik keluarga bersikap netral?
Skenario: anak 10 tahun yang orangtuanya baru bercerai pergi ke sekolah
🌿 Capaian: Peserta mampu menganalisis kebutuhan spesifik anak dalam keluarga non-normatif, mengidentifikasi bias personal mereka tentang konfigurasi keluarga, dan merancang pendekatan pendampingan yang bebas stigma.
V
Unit Lima
Unit Kelima · Pertemuan 13–14
Nilai, Spiritualitas & Warisan Moral dalam Pendidikan Keluarga
Mengeksplorasi bagaimana keluarga menanamkan nilai-nilai, identitas spiritual, dan karakter moral — bukan melalui ceramah, tetapi melalui kehidupan sehari-hari yang terus berlangsung.
13
TeoriSkenario
Penanaman Nilai & Karakter: Keluarga sebagai Sekolah Moral Pertama
Bagaimana nilai-nilai ditransmisikan tidak melalui kata-kata, tetapi melalui ritual, keputusan harian, dan cara keluarga menghadapi dilema moral nyata.
+
Deskripsi Materi

Penelitian menunjukkan bahwa anak lebih banyak belajar nilai dari melihat cara orang tuanya hidup daripada dari nasehat verbal. Pertemuan ini mengkaji bagaimana keluarga — melalui ritual, keputusan harian, cara berbicara tentang orang lain, cara menghadapi ketidakadilan — secara tidak sadar mentransmisikan nilai moral. Peserta menganalisis "moral curriculum" keluarga mereka sendiri melalui skenario-skenario dilematis kehidupan nyata.

Isi Konten
Teori perkembangan moral Kohlberg dalam konteks keluarga
Moral modeling: anak belajar dari apa yang dilihat, bukan didengar
Ritual keluarga sebagai medium transmisi nilai: makan bersama, ibadah, tradisi
Moral dilemma conversation: mendiskusikan dilema etis bersama anak
Nilai eksplisit vs. nilai implisit: apa yang keluarga katakan vs. lakukan
Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal: gotong royong, tepa selira, dll.
Skenario dilema moral: kejujuran vs. kesetiaan dalam konteks keluarga
Membangun "family moral identity": siapa kita, apa yang kita perjuangkan?
📖 Skenario LBFS: "Seorang ayah menemukan anaknya (12 tahun) berbohong soal nilai ujian. Tapi ia juga ingat, minggu lalu ia sendiri berbohong kepada atasan soal alasan tidak masuk kerja. Anaknya ada di sisinya waktu itu. Malam itu, ayah itu merenungkan: apa yang sesungguhnya ia ajarkan?"
🌿 Capaian: Peserta mampu memetakan "moral curriculum" keluarga mereka sendiri, mengidentifikasi konsistensi dan inkonsistensi antara nilai yang diajarkan dan yang diperagakan, serta merancang satu ritual keluarga baru yang menguatkan nilai yang ingin ditanamkan.
14
RefleksiPraktik
Spiritualitas Keluarga & Makna di Balik Skenario Kehidupan
Menemukan dimensi transenden dalam kehidupan keluarga: bagaimana keyakinan spiritual menjadi sumber makna, penghiburan, dan arah dalam menghadapi kehidupan.
+
Deskripsi Materi

Spiritualitas — dalam berbagai bentuknya — adalah salah satu faktor resiliensi terkuat dalam keluarga Indonesia. Pertemuan ini mengeksplorasi dimensi spiritual kehidupan keluarga secara inklusif dan tidak dogmatis: bagaimana keyakinan transenden memengaruhi pemaknaan penderitaan, cara berduka, nilai yang ditanamkan, dan cara keluarga menemukan harapan di tengah krisis. Skenario-skenario berat kehidupan — penyakit terminal, kematian anak, kehilangan bertubi — dijadikan medium refleksi mendalam.

Isi Konten
Spiritualitas vs. religiusitas: perbedaan dan irisan dalam konteks keluarga
Spiritualitas sebagai sumber resiliensi: bukti penelitian lintas budaya
Transmisi iman dan keyakinan dalam keluarga: pendekatan inklusif
Spiritual crisis dalam keluarga: ketika keyakinan diuji oleh kehidupan
Ritual spiritual keluarga: sholat berjamaah, doa makan, ziarah, perayaan
Mendampingi anak menghadapi pertanyaan besar: kematian, keadilan, Tuhan
Keberagaman keyakinan dalam keluarga lintas agama/aliran
Praktik: menulis "family spiritual autobiography" — narasi iman keluarga
🌿 Capaian: Peserta menghasilkan narasi "spiritual autobiography" keluarga yang menceritakan bagaimana keyakinan membentuk cara keluarga mereka menghadapi momen-momen kritis kehidupan, disertai refleksi kritis atas sumber makna yang dianut.
Spiritual Autobiography TemplateJurnal RefleksiSmall Group Discussion
VI
Unit Enam
Unit Keenam · Pertemuan 15–16
Transformasi & Warisan: Menjadi Keluarga yang Diinginkan
Mengintegrasikan seluruh perjalanan pembelajaran menjadi rencana transformasi keluarga yang konkret, realistis, dan berpijak pada kekuatan — serta merencanakan warisan yang ingin ditinggalkan.
15
ProyekPraktik
Family Transformation Plan: Dari Insight menuju Perubahan Nyata
Menyusun rencana transformasi keluarga yang spesifik, terukur, dan kontekstual — melampaui niat baik menuju komitmen yang dapat dipertanggungjawabkan.
+
Deskripsi Materi

Pengetahuan tanpa tindakan tidak mengubah keluarga. Pertemuan ini memandu peserta menyusun Family Transformation Plan yang konkret: bukan daftar keinginan idealis, melainkan komitmen perubahan yang spesifik, realistis, dan dapat diukur dalam konteks kehidupan nyata mereka. Menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry — dimulai dari kekuatan, bukan kelemahan — peserta membangun visi keluarga dan langkah-langkah kecil pertama yang bisa dimulai besok.

Isi Konten
Appreciative Inquiry dalam pengembangan keluarga: 4D model
Dari insight ke intention: menjembatani kesadaran dan komitmen
Menyusun Family Vision Statement: siapa kita ingin menjadi?
SMART goals dalam konteks perubahan keluarga
Identifikasi hambatan perubahan: sistemik, relasional, individual
Akuntabilitas perubahan: pasangan belajar dan check-in rutin
Merayakan kemajuan kecil: culture of appreciation dalam keluarga
Workshop: menyusun Family Transformation Plan (sesi kerja terpandu)
📖 Format Family Transformation Plan: (1) Visi keluarga dalam 5 tahun, (2) 3 kekuatan keluarga yang menjadi modal, (3) 2 pola yang ingin diubah, (4) 5 langkah konkret 3 bulan pertama, (5) Sistem akuntabilitas dan indikator kemajuan.
🌿 Capaian: Setiap peserta menghasilkan Family Transformation Plan yang terdokumentasi, mencakup visi, kekuatan, tujuan spesifik, dan 5 langkah aksi pertama yang realistis — siap dipresentasikan dan dipegang sebagai komitmen.
FTP TemplateNotion / Google DocsAccountability Partner
16
EvaluasiRefleksi
Evaluasi Akhir — "Surat untuk Keluargaku": Portofolio Reflektif & Presentasi Final
Penutup yang bermakna: mempersembahkan perjalanan pembelajaran melalui portofolio reflektif dan surat cinta kepada keluarga sebagai ekspresi transformasi yang autentik.
+
Deskripsi Materi

Evaluasi akhir kursus ini berbeda dari ujian konvensional. Ia adalah sebuah ritual penutup yang bermakna: peserta mempresentasikan portofolio reflektif perjalanan 16 pertemuan mereka, lalu membacakan (atau mempersembahkan) sebuah surat yang ditujukan kepada keluarga mereka — sebagai ekspresi paling autentik dari transformasi yang telah terjadi dalam diri mereka sebagai anggota keluarga. Satu-satunya ukuran keberhasilan adalah ketulusan dan kedalaman refleksi.

Komponen Evaluasi Akhir
Portofolio Reflektif (30%): kumpulan jurnal, skenario, analisis, dan catatan pertumbuhan
Family Transformation Plan (25%): kualitas, kekonkretan, dan pemijakan pada kekuatan
"Surat untuk Keluargaku" (25%): ketulusan, kedalaman, dan perubahan perspektif yang terefleksi
Presentasi & Berbagi (15%): kemampuan menyampaikan perjalanan belajar secara bermakna
Kontribusi Komunitas Belajar (5%): kualitas kehadiran dan dukungan terhadap sesama peserta
✉️ "Surat untuk Keluargaku": Surat sepanjang 500–800 kata yang ditujukan kepada keluarga (pasangan, anak, orang tua, atau keluarga secara keseluruhan) — menceritakan apa yang peserta pelajari tentang diri sendiri, apa yang ingin diubah, dan apa yang ingin dipertahankan sebagai warisan. Tidak ada format benar atau salah. Hanya ketulusan.
🌿 Capaian Akhir Kursus: Peserta menunjukkan pertumbuhan pemahaman tentang dinamika keluarga mereka, memiliki rencana transformasi yang konkret dan berbasis kekuatan, serta mampu mengartikulasikan komitmen perubahan dalam bahasa yang jujur, hangat, dan bermakna bagi keluarga mereka sendiri.
Portofolio DigitalSurat (Cetak / Digital)Sesi Sharing Sakral